Sekarang memang bukan bulan Februari, waktunya orang-orang
merayakan hari kasih sayang di tanggalnya yang ke-14. Tapi bukankah berkasih
sayang dan juga berbicara tentang cinta tak sepatutnya dipatok pada barisan
waktu yang mengekang? Karena kalau mau kita telaah lagi, pembicaraan tentang
cinta seolah tiada habisnya. Selalu menjadi topik yang menarik, bahasan bagi
para penggosip di sela-sela gang atau bahkan di antara kubikel-kubikel meja kantor. Ketertarikan ini terjadi karena banyak pendapat maupun sudut pandang dalam memahami cinta.
Terkadang pula, suatu topik menjadi menarik karena kita mengalaminya
sendiri, dan barangkali anda pernah mengalami kejadian seperti ini:
Anda mempunyai dua orang yang cukup dekat. Yang pertama,
kedekatannya bisa diukur dengan kuantitas jumlah pertemuan, sering chat, dan
sebagainya. Namun ketika bertemu, anda merasa bahwa dia hanyalah sebagai teman
dekat, tak lebih. Tak ada pula rasa hati berbunga-bunga atau kupu-kupu
berterbangan di dalam perut. Sayangnya, suatu hari orang tersebut tiba-tiba
menghilang dari rutinitas anda, dan anda pun merasa kehilangan yang amat
sangat.
Di sisi lain, orang yang kedua, kedekatannya dengan anda
barangkali diukur dengan kualitas. Anda merasa nyaman satu sama lain walau
jarang berkomunikasi. Sekalinya ada kontak dengan dia, anda merasa riang,
gembira, sumringah. Seolah dunia ini adalah taman surgawi bagi anda.
Lantas anda pun mulai bertanya, sebetulnya perasaan yang
mana yang disebut dengan cinta? Ketika anda merasa kehilangan saat tidak adanya
orang tersebut? Ataukah perasaan berbunga ketika si dia ada di hadapan anda?
Pertanyaan tersebut dan juga berjuta pertanyaan tentang
cinta lainnya barangkali sudah sering dibahas melalui berbagai sudut pandang
ilmu, diantaranya adalah psikologi sosial. Dalam ilmu psikologi sosial, salah
satu yang cukup terkenal adalah Robert Sternberg's
triangular theory of love. Berdasarkan teori ini, ada tiga kategori utama yang merupakan
komponen perasaan cinta yaitu intimacy, passion, dan commitment.

Menurut Sternberg, intimacy merupakan jenis cinta
berdasarkan kedekatan dan kepercayaan. Seperti misalnya pada hubungan
pertemanan yang walaupun anda menyukai teman tersebut namun tidak ada passion
dan commitment di dalamnya. Kemudian passion, yang dicirikan dengan
ketertarikan fisik dan seks. Oleh karena tidak adanya kedekatan dan komitmen
pada jenis cinta ini, orang-orang biasa menyebut passion dengan “cinta pada
pandangan pertama”. Selanjutnya yaitu commitment, yang hanya mengandalkan
komitmen atau perjanjian untuk menjaga sebuah hubungan. Biasanya orang-orang yang mengalami
tipe cinta seperti ini berada pada awal fase pernikahan melalui perjodohan
dimana intimacy dan passion tidak ada sama sekali, atau pada pasangan yang
sudah lama sekali sehingga intimacy dan passion-nya telah mengalami penurunan
yang drastis.
Sternberg juga mengkategorikan cinta berdasarkan gabungan
dua komponen dari segitiga tersebut. Misalnya pada sisi kiri segitiga, yaitu
intimacy dan passion. Tipe cinta seperti ini disebut dengan romantic love,
dimana pasangan mengalami perasaan berbunga-bunga dan juga sangat menikmati
kedekatan hubungan mereka layaknya dua orang sahabat. Namun sayangnya, tidak
ada komitmen yang serius pada hubungan ini seperti misalnya hubungan pada
sepasang remaja dan orang dewasa muda. Selanjutnya di sisi kanan segitiga,
yaitu intimacy dan commitment. Gabungan keduanya disebut dengan companionate
love atau cinta dengan kedekatan seperti sahabat. Biasanya tipe seperti ini
terjadi pada pasangan yang sudah menikah lama sekali, walaupun passion diantara
mereka sudah tidak ada namun keduanya tetap menikmati hubungan dengan ikatan
yang begitu mendalam. Tipe yang terakhir yaitu segi bawah segitiga disebut
dengan fatuous love atau cinta dengan kebodohan. Disebut demikian karena tipe
ini hanya mengandalkan passion dan commitment saja, tidak ada kedekatan kuat
yang menjadi dasar untuk menjaga hubungan tersebut.
Lantas bagaimana dengan pertanyaan yang disebutkan di awal
tadi? Termasuk tipe cinta yang mana kah?
Untuk kasus orang pertama, commitment jelas dicoret karena
belum terbentuknya sebuah ikatan yang mengarah ke sana. Kemudian untuk rasa nyaman yang muncul, maka
perasaan terhadap orang tersebut bisa dikategorikan ke dalam intimacy. Namun
karena tidak adanya perasaan berbunga maka tidak ada passion disana. Oleh
karena itu pada kasus ini, tipe cinta yang ada hanya berdasarkan intimacy saja
alias cinta pertemanan atau persahabatan.
Untuk kasus orang kedua, commitment juga dicoret karena
belum ada tujuan ke arah sana. Kemudian adanya kedekatan dan juga perasaan
berbunga-bunga, dapat dipastikan bahwa ada gabungan intimacy dan passion
disana. Dalam artian, tipe cinta ini termasuk ke dalam romantic love.
Setelah anda mengetahui tipe cinta yang dirasakan, barangkali
timbul pertanyaan lainnya dalam benak anda. Seperti misalnya: Bagaimana caranya
bisa muncul perasaan-perasaan tersebut?
Ternyata selain ilmu psikologi sosial, sains juga telah
menjelaskan bagaimana perasaan cinta dapat terbentuk. Hal ini didorong oleh
berbagai hormon dan proses kimiawi. Helen Fisher mengungkapkan ada tiga fase
dalam percintaan, yaitu lust, attraction, dan attachment. Lust atau nafsu ini
didorong oleh hormon testosteron dan estrogen. Sehingga secara alamiah, wanita
dan pria akan mengalami keinginan yang sangat kuat antara satu dengan yang
lainnya.
Fase berikutnya adalah attraction atau ketertarikan. Fisher
mengatakan bahwa pada fase ini, seseorang akan benar-benar jatuh cinta dan
hampir tidak memikirkan hal yang lainnya. Ada tiga hormon yang berpengaruh pada
fase ini antara lain adrenalin, dopamine, dan serotonin. Hormon adrenalin akan
memacu seseorang untuk berkeringat, jantungnya berdetak lebih cepat, dan mulut
menjadi kering ketika bertemu dengan orang yang dicintainya. Sementara dopamine,
merupakan hormon yang menyebabkan seseorang merasa sangat senang pada hal-hal
kecil dalam sebuah hubungan, meningkatkan energi, serta mengurangi kebutuhan
akan tidur dan makan. Selanjutnya serotonin, merupakan hormon yang bertanggungjawab
atas terus munculnya sang kekasih dalam pikiran seseorang.
Fase yang terakhir adalah attachment atau keterikatan. Hormon
yang bekerja pada fase ini adalah oxytocin dan vasopressin. Oxytocin berpengaruh
dalam mempererat sebuah ikatan. Hormon ini bisa muncul melalui pelukan atau
hubungan seks yang nantinya berdampak pada seseorang untuk merasakan kedekatan
dengan pasangannya. Sementara vasopressin biasanya bekerja setelah berhubungan
seks. Bedanya dengan oxytocin, hormon vasopressin ini akan mendorong
seseorang untuk berhubungan seks dalam rangka mempertahankan hubungan daripada
untuk sekedar bereproduksi.
Sumber gambar: ilustrasi pribadi - "Terbang Meninggalkan Kota Mati"
Itulah berbagai pendapat dan sudut pandang mengenai cinta. Ada yang mengkategorikan cinta dalam bentuk hubungan antar manusia, ada pula yang menjelaskannya dengan hormon-hormon yang bekerja saat jatuh cinta. Keduanya menjadi menarik karena cinta sendiri sudah menjadi bagian dalam kehidupan sehari-hari dan bias dijelaskan dengan ilmu pengetahuan.
Kalau
menurut saya pribadi, cinta itu sesuatu yang membuat anda hidup, sanggup terbang
jauh meninggalkan kota mati. Bukanlah sebuah ketakutan yang justru mengekang. Akan
tetapi tentunya masih banyak makna cinta lainnya dari beragam sudut pandang. Bagaimana
dengan anda?
Referensi: