Bolehkah aku membencimu, Waktu?
Ketika kau hidup bahkan sebelum aku pandai berhitung
Lalu bertemu dengan dia yang aku tampikkan ketulusannya
Padahal aku bukanlah sang ratu terhebat
Bagaimana aku tidak membencimu, Waktu?
Saat kami saling mencinta, sungguh
Tapi lambat laun cinta itu kalah dengan keadaan
Dan kau hanya menjadi penonton setia
Ah, sungguhlah aku ingin membencimu, Waktu
Ketika dia berusaha memberikan kotak pandoranya
Namun aku bergeming, baru sadar setelah dia beranjak
Dan kau hanya di situ saja tak berbuat apapun
Dan juga pada dia yang sedari dulu menunjukkan kebaikan hati
Walau aku hingga kini pun terus menutup pintu
Sedangkan kau diam saja mengumbar senyum manis
Maka tidakkah aku pantas membencimu, Waktu?
Apalagi pada dia yang demi Tuhan aku ingin bersamanya
Tapi kau malah terus bergulir tanpa beban
Seolah aku sanggup menahan degup jantung saat mengingatnya
Seolah aku tak menjerit saat dia akhirnya membuat pilihannya
Oleh karenanya maukah kau bangkit dari kursi penonton kali ini?
Katakan pada dia bahwa kau akan mempertemukan kami
Maka maafkan cintaku yang selalu terlambat sampai
Sebab hanya padamu, Waktu, aku mengingat segala senang dan sedih
Showing posts with label Puisi. Show all posts
Showing posts with label Puisi. Show all posts
Friday, May 15, 2015
Wednesday, April 22, 2015
Membuang Ironi
| Sumber gambar: Dokumentasi pribadi - "Lautan dan Langit Biru" |
Manusia memang si pembuat rumit
Coba katakan bagaimana mungkin
Kamu merasa kehilangan
Ketika semua berawal dari ketiadaan
Kamu pun ingin memilikinya
Padahal yakin bahwa kita individu bebas
Dan kamu, makhluk yang tak henti bertanya
Meski tahu bahwa bahagia tercipta saat tak ada lagi pertanyaan
Tak bisakah kau sudahi membayangi diri sendiri
Dengan nostalgi yang tak lagi penting
Dan kita juga sama-sama tahu
Berulang kali kau tersungkur
Namun kau selalu bisa berlari lagi tanpa ragu
Lantas potong saja drama yang tak perlu
Seperti padamu, lautan dan langit biru
Segala rindu, cemas, dan sedihku meluruh
Friday, April 17, 2015
Kita Hanyalah Kita
Mata sudah kupejam
Kubayangkan kau ada di sisiku, sayangku
Takzim memandangi lembah parahyangan
Dibasahi gerimis, melamunkan banyak hal
Orang bilang aku kuat
Tapi kau selalu tahu kapan aku lemah
Kata mereka aku cerdas
Tapi kau membawaku melihat dunia yang lebih luas
Mereka bilang aku baik hati
Tapi ketulusanmu mengalahkan segala
Karena kau sungguh paham
Aku hanyalah aku
Bukan tembok yang kokoh
Dan bukan pula bintang jatuh
Yang hidupnya hanya untuk memenuhi harapan orang lain
Maka berjalanlah di sisiku, sayang
Agar aku tahu, kita sedang di alam nyata
Tiada drama, sebab aku yang akan menggenggam tanganmu
Membawamu merasakan sisi hidup yang menyenangkan
Karena kita hanyalah kita
Dua insan yang siap bahagia bersama
Dan akan menularkannya ke seluruh dunia
PS: Untukmu, seseorang yang (sayangnya) masih imajiner
Kubayangkan kau ada di sisiku, sayangku
Takzim memandangi lembah parahyangan
Dibasahi gerimis, melamunkan banyak hal
Orang bilang aku kuat
Tapi kau selalu tahu kapan aku lemah
Kata mereka aku cerdas
Tapi kau membawaku melihat dunia yang lebih luas
Mereka bilang aku baik hati
Tapi ketulusanmu mengalahkan segala
Karena kau sungguh paham
Aku hanyalah aku
Bukan tembok yang kokoh
Dan bukan pula bintang jatuh
Yang hidupnya hanya untuk memenuhi harapan orang lain
Maka berjalanlah di sisiku, sayang
Agar aku tahu, kita sedang di alam nyata
Tiada drama, sebab aku yang akan menggenggam tanganmu
Membawamu merasakan sisi hidup yang menyenangkan
Karena kita hanyalah kita
Dua insan yang siap bahagia bersama
Dan akan menularkannya ke seluruh dunia
PS: Untukmu, seseorang yang (sayangnya) masih imajiner
Tuesday, April 14, 2015
Pak Tua dan Bus Kota
Hai Pak Tua dalam bus kota
Kau datang lagi temani kami para pekerja
Dengan sorot mata kuyu yang sama
Menatap lelah wajah-wajah yang bosan
Tidak, kami bukannya bosan karenamu, Pak Tua
Kami malah tak peduli denganmu yang mulai buka suara
Tanpa alat musik sebagai pengiringya
Lantang mengalahkan deru mesin bus kota
"Wahai kau burung dalam sangkar
Dapatkah kau menahan siksa
Dari kekejaman dunia
Yang tak tahu menimbang rasa"
Jangan tanya apakah kami jadi ikut hapal
Hanya ini lagu yang kau dendangkan, Pak Tua
Namun selalu saja seperti dendam mengusik
Apakah kau juga merasa bosan seperti kami?
Bosan menatap kota dan bus tua
Hidup hanya untuk tutup rasa lapar
Terinspirasi dari:
Pagi di Terminal Kampung Melayu
Kau datang lagi temani kami para pekerja
Dengan sorot mata kuyu yang sama
Menatap lelah wajah-wajah yang bosan
Tidak, kami bukannya bosan karenamu, Pak Tua
Kami malah tak peduli denganmu yang mulai buka suara
Tanpa alat musik sebagai pengiringya
Lantang mengalahkan deru mesin bus kota
"Wahai kau burung dalam sangkar
Dapatkah kau menahan siksa
Dari kekejaman dunia
Yang tak tahu menimbang rasa"
Jangan tanya apakah kami jadi ikut hapal
Hanya ini lagu yang kau dendangkan, Pak Tua
Namun selalu saja seperti dendam mengusik
Apakah kau juga merasa bosan seperti kami?
Bosan menatap kota dan bus tua
Hidup hanya untuk tutup rasa lapar
Terinspirasi dari:
Pagi di Terminal Kampung Melayu
Thursday, April 9, 2015
Dalam Bilik Sunyi
Ruang itu terlampau besar
Hingga sunyi bersedia mengisi kosongnya
Aku mendengar langit tertawa usai hujan lebat
"Coba kau sebut siapa yang bodoh?" katanya
Ketika awan tetap memilih membawa hujan
Padahal ia tahu hujan tak pernah setia
Dan aku hanya bisa tersenyum kecut
Sebab lembah juga hanya tergugu
Menyaksikan awan berarak kembali sambil termenung
Karena kita semua pun maklum
Pada setiap kaki yang melangkah
Selalu ada rindu yang menjejak
Hingga sunyi bersedia mengisi kosongnya
Aku mendengar langit tertawa usai hujan lebat
"Coba kau sebut siapa yang bodoh?" katanya
Ketika awan tetap memilih membawa hujan
Padahal ia tahu hujan tak pernah setia
Dan aku hanya bisa tersenyum kecut
Sebab lembah juga hanya tergugu
Menyaksikan awan berarak kembali sambil termenung
Karena kita semua pun maklum
Pada setiap kaki yang melangkah
Selalu ada rindu yang menjejak
Subscribe to:
Posts (Atom)